Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Materi Tarbiyah’ Category

Oleh: Yuari Trantono 

Persepsi Historis Sampainya Islam Ke Pemerintahan           

Allah telah memilih jazirah Arab sebagai tempat kelahiran risalah,

”Allah lebih mengetahui dimana Allah menjadikan risalah-Nya” (Al-An’am:124)

Orang yang merenungkan pemilihan ini, akan menangkap salah satu sisi yang terdalam dari hikmah ilahiyah, bahwa waktu itu jazirah Arab waktu itu tidak berada dibawah hegemoni salah satu dari dua negara besar, Persia dan Romawi. Walaupun sangat dekat dengan perbatasanya. Betapapun Dakwah Islam dimulai dimakkah yang jauh dari kekuasaan negara besar, namun ia terkepung di Makkah, karena Quraisy memiliki kekuasaan yang dominan atas um al-qura (induk negeri-negeri, yakni makkah). Quraisy memandang Dakwah yang disebarkan oleh Nabi Muhammad dan kaum muslimin lainya dapat mengancam kepentingan dan pengaruhnya , sehingga mendorong Rasulullah saw mencari basis yang aman untuk dakwah islam sebagai titik tolak terciptanya daulah islam. Karena alasan itulah, beliau memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Habasyah dan Beliau sendiri berangkat ke Thaif.           

Kemudian Rasulullah saw mendapatkan apa yang dirindukanya di Madinah setelah bai’at pertama dan kedua. Secara Politis di Madinah tidak ada kekuasaan sentral yang kuat yang memiliki satu sikap tunggal terhadap tegaknya daulah Islam. Tidak seperti di Makkah, dimana kafir Quraisy memiliki satu sikap tunggal untuk memerangi dakwah islam. Di Madinah ada tiga kekuatan kabilah yang hampir seimbang, yaitu kabilah Aus, Kazraj dan Yahudi. Selanjutnya setelah mendirikan masjid dan mempersaudarakan antara kaum anshar dan muhajirin, Rasulullah saw meletakkan undang-undang pemerintahan awal walapun belum utuh, yang biasa kita kenal dengan Piagam Madinah, ahli sejarah menamakanya dengan ”Shahifa”. Itulah persepsi historis (shurah tarikhiyah) sampainya islam kepanggung kekuasaan/ pemerintahan.Pemerintahan itu terus berlanjut-baik dalam kondisi ideal maupun yang tidak ideal-hingga adanya konspirasi besar internasional terhadap islam dengan meruntuhkan kekhilafahan dan mencabik-cabik bangsanya, membangun eksistensi kedaerahan, negara-negara kecil dan aliran pemikiran. 

Dalil-Dalil yang Membolehkan Masuk Kedalam Pemerintahan              

Harus kita akui bahwa dakwah ini tidak hanya untuk rakyat kecil saja tetapi ia juga harus masuk keseluruh sendi kehidupan dan elemen masyarakat termasuk berdakwah kedalam struktur pemerintahan (baik menjadi staff honorer, gubernur, camat, perangkat desa, dinas-dinas terkait, PNS, Anggota Parlemen, kepala negara, menteri dan pejabat kenegaraan yang lain) baik masuk kedalam sistem maupaun ketika berada diluar sistem. Kita ketahui bersama bawa dakwah itu sebuah kewajiban. Kebaikan itu harus disebarkan kemanapun dimanapun ada kehidupan. Untuk dalil-dalil yang melarang sudah dijelaskan pada bagian pertama rangkaian tulisan ini (lihat tulisan Sistem Politik Islam dan Demokrasi).  (lebih…)

Read Full Post »

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk (al-Qur`an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama sekalipun orang-orang musyrik tidak menyukai” (QS At-Taubah: 33).

Setiap masyarakat memiliki nilai-nilai yang diyakini bersama. Kedudukan nilai dalam sebuah masyarakat tidak hanya sebagai pemandu kehidupan tetapi juga sebagai pemberi arti bagi amal-amal yang dilakukan anggotanya. Nilai dapat mengharmonikan pluralitas yang terdapat dalam sebuah masyarakat menjadi sebuah panorama kehidupan yang indah. Oleh karena itu nilai-nilai selalu dipandang sebagai sesuatu yang amat penting, bahkan dijunjung tinggi oleh semua anggota sebuah masyarakat.

Oleh karena posisi nilai dalam sebuah masyarakat demikian pentingnya maka ia selalu menjadi penggerak motivasi dan melekat kuat dalam kehidupan. Ia menjadi tradisi yang tidak dapat dipisahkan dari totalitas hidupnya. Nilai yang sudah tertanam dalam jiwa dan mentradisi itu menjadi tenaga (energi) yang mendorong seseorang untuk selalu bertekad (azam) dalam menegakkan dan bahkan membelanya.

Dalam konteks kaum Muslimin nilai-nilai yang dimaksud adalah Islam, din yang mengandung tata nilai yang mengatur seluruh dimensi kehidupan. Setiap muslim seyogianya tidak hanya meyakini bahwa seluruh dimensi ajaran atau nilai-nilai Islam benar dan harus ditegakkan dalam seluruh aspek kehidupannya, tetapi juga harus dibela agar Islam dapat tegak berada di atas agama-agama yang lain.

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk (al-Qur`an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama sekalipun orang-orang musyrik tidak menyukai” (QS At-Taubah: 33).
(lebih…)

Read Full Post »

Oleh : Nursanita Nasution, SE. ME

Sebagai Partai Da’wah, Partai Keadilan (PK) sangat peduli dengan masalah keluarga. Mengingat peran keluarga sangat penting dalam membentuk karakter bangsa. Tak salah jika kemudian bidang kewanitaan DPP PK yang membawahi departemen keluarga, mengupayakan terbentuknya generasi penerus yang bertakwa, sehat, cerdas emosi dan intelektualnya.

Keluarga bagi kita adalah lembaga pertama dan utama yang dikenal seorang manusia ketika ia lahir ke dunia. Di keluargalah seorang anak manusia mengenal nilai dan norma kehidupan. Keluargalah yang melahirkan manusia-manusia yang akan terjun ke masyarakat. Perilaku seseorang di masyarakat adalah cermin dari keluarganya.

Saat ini, kita prihatin dengan jumlah keluarga di Indonesia yang masih dirundung problema. Padahal keluarga sakinah adalah dambaan setiap manusia. Keluarga yang pecah, broken home, tidak harmonis, pasutri yang selingkuh menyebabkan keluarga tidak lagi menjadi surga bagi penghuninya. Dalam keluarga demikian akan muncul orang-orang berperilaku masa bodoh, tidak peduli hak orang lain, egois, dan kasar.
(lebih…)

Read Full Post »

KARAKTERISTIK AQIDAH ISLAM

Aqidah Islam adalah Aqidah Rabbaniy (berasal dari Allah) yang bersih dari pengaruh penyimpangan dan subyektifitas manusia. Aqidah Islam memiliki karakteristik berikut ini:

- Al Wudhuh wa al Basathah ( jelas dan ringan) tidak ada kerancuan di dalamnya seperti yang terjadi pada konsep Trinitas dsb.
– Sejalan dengan fitrah manusia, tidak akan pernah bertentangan antara aqidah salimah (lurus) dan fitrah manusia. Firman Allah : “Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu, tidak ada perubahan pada fitrah Allah..” (QS. 30:30).
– Prinsip-prinsip aqidah yang baku, tidak ada penambahan dan perubahan dari siapapun. Firman Allah :”Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan lain selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah ?“ (QS. 42:21).
– Dibangun di atas bukti dan dalil, tidak cukup hanya dengan doktrin dan pemaksaan seperti yang ada pada konsep-konsep aqidah lainnya. Aqidah Islam selalu menegakkan : “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar” (QS 2:111).
– Al Wasthiyyah (moderat) tidak berlebihan dalam menetapkan keesaan maupun sifat Allah seperti yang terjadi pada pemikiran lain yang mengakibatkan penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya. Aqidah Islam menolak fanatisme buta seperti yang terjadi dalam slogan jahiliyah “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka” (QS. 43:22). (lebih…)

Read Full Post »

Iman Kepada Rasul

Ta’rif Nabi dan Rasul

Rasul adalah orang laki-laki pilihan yang Allah berikan wahyu berisi syari’ah dan diperintahkan untuk menyampaikan kepada kaumnya. Sedang nabi adalah orang laki-laki yang Allah berikan wahyu kepadanya berisi syari’ah, tetapi tidak diperintahkan untuk menyampaikan kepada kaumnya.

Rasul dan nabi sama-sama mendapatkan wahyu, tetapi sering kali seorang Nabi diutus Allah kepada kaum yang memang sudah beriman sehingga perannya hanya menjalankan syari’ah yang sudah ada itu dan tidak membawa ajaran yang baru. Seperti para Nabi yang pernah Allah utus kepada Bani Israil setelah ditinggalkan Nabi Musa, mereka bertugas mengajarkan dan mengamalkan Taurat, tidak membawa ajaran yang baru/bukandari Taurat. (QS. 2: 246).

Di sinilah rahasia sabda Nabi : al ulama waratsatul Anbiya, bukan waratsaturrasul, karena peran ulama hanya terbatas pada menyampaikan ajaran agama yang ada bukan membuat aturan baru.
(lebih…)

Read Full Post »

Oleh: Drs. H. Ahmad Yani
Email: ayani@indosat.net.id

Dalam kehidupan bersama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat maupun bangsa, musyawarah merupakan sesuatu yang harus dilakukan. Hal ini karena dalam kehidupan berjamaah, ada banyak kepentingan, kebutuhan maupun persoalan yang harus dihadapi dan diatasi secara bersama-sama agar bisa terjalin kerjasama yang baik. Dalam proses musyawarah itulah, harus berlangsung apa yang disebut dengan dialog.

Secara harfiyah, syura bermakna menjelaskan, menyatakan, mengajukan dan mengamnbil sesuatu. Syura adalah menyimpulkan pendapat berdasarkan pandangan antar kelompok. Kata syura sudah menjadi bahasa Indonesia yang kemudian dikenal dengan istilah musyawarah. Dalam bahasa Indonesia, musyawarah adalah pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atas penyelesaian masalah bersama.

Landasan Hukum Syura

Di dalam Al-Qur’an, terdapat tiga ayat yang menjelaskan tentang syura. Dari ayat-ayat ini, dapat kita simpulkan bahwa musyawarah harus kita lakukan dalam tiga aspek. Pertama, musyawarah terhadap persoalan keluarga, hal ini karena dalam kehidupan keluarga, khususnya antara suami dengan isteri, terdapat hal-hal yang harus disepakati dan diatasi sehingga kehidupan rumah tangga bisa berjalan dengan baik. Allah Swt berfirman yang artinya: Para ibu hendaklah menyusukan anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.

Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan juga seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bartaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (2:233). (lebih…)

Read Full Post »

Potensi Manusia

Setiap kali pandangan ini tertuju pada orang-orang yang bermegah-megah dalam perjalanan hidup ini, disuatu hari ataupun disuatu kota di negeri yang dibilang maju ini, selalu muncul argument dalam diri ini, bahwa mereka begitu beruntungnya dibandingkan saudara-saudara kita di tempat lain, yang dimana mereka untuk menghidupi dirinya dan keluarganya perlu kerja yang sangat keras sekali ataupun malah lebih memprihatinkan dari itu, oleh karena sebenarnya mereka menjadi korban-korban dari mereka yang hidup bermegah-megahan itu baik yang langsung maupun tidak langsung.

Kemegahan itu akhirnya malah menjadikan mereka lupa kepada perintah-perintah dan larangan-larangan Tuhannya, Rabb Semesta alam, yang menciptakan mereka penuh dengan segala kenikmatan. Mereka tidak mengindahkan petunjuk-petunjuk yang diturunkan Rabbnya melalui Rasulnya kepada seluruh manusia dan makhluk lainnya sampai hari berakhirnya kehidupan didunia ini. Sehingga seperti Allah tabaraka ta’ala peringatkan, bahwa neraka jahanam adalah tempat bagi mereka dihari akherat nanti

Hai manusia, sesungguhnya Allah, Rabb engkau yang menciptakan seluruh kehidupan ini, sudah memberikan potensi-potensi untuk memahami petunjuk-petunjuk yang datang dariNya, yakni : potensi engkau mendengar
( As-sam’u ), potensi engkau bisa melihat, dan potensi engkau memahami dengan hati engkau. (lebih…)

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.