Feeds:
Pos
Komentar

Era baru Dakwah kampus 2009Dalam kurun delapan tahun terakhir saya tidak pernah menjumpai buku tentang dakwah kampus yang sefenomenal ini, seperti kelahiran buku pertama karya mahfudz sidik yang berjudul risalah dakwah thulabiyah tepat tahun 2000 lalu. Buku ini lebih mampu untuk menciptakan momentum, walaupun sebelumnya telah ada buku-buku tentang dakwah kampus yang terbit beberapa tahun terakhir. Boleh dibilang buku ini lebih memiliki “taste”. Hingga Ustadz Cahyadi Takariawan (Penulis dan Wilda DPP PKS) dalam testimoninya mengomentari….

Apa yang tertulis dalam buku ini bukan saja ilmu. namun kristalisasi ideologi, pengalaman, keyakinan, cita-cita dan harapan. Saya melihat karya Ari ini lebih dari sebuah buku, namun sebagai momentum sejarah  baru dakwah kampus

 

Buku itu berjudul “PARADIGMA BARU DAKWAH KAMPUS; Strategi sukses mengelola dakwah kampus “ buah pena dari Ari Abdillah. Buku yang terbit dipenghujung tahun 2008 ini, sangat pas untuk ADS (aktifis dakwah sekolah), ADK (aktifis dakwah kampus), ADP (aktifis dakwah profesi), kader dakwah disemua lini, da’i, murrabi dan murrabiyah kampus….Berikut petikan bukunya………….

Li kulli marhalatin ahdafuha, li kulli marhalatin rijaluha (dalam setiap tahapan da’wah memiliki tujuan dan rijalnya masing-masing). Masa transisi bangsa ini telah memberikan pengaruh terhadap dinamika dakwah kampus. Dalam kurun waktu delapan tahun terakhir saya merasakan perubahan itu mulai menusuk dan mempengaruhi iklim dakwah kampus. Tuntutan akademis, meningkatnya biaya pendidikan, karakter mahasiswa yang semakin hedonis, munculnya berbagai harokah da’wah dan semakin menurunnya energi pergerakan mahasiswa turut memberikan warna tersendiri dalam denyut nadi da’wah kampus. Perubahan itu ternyata mengalir keberbagai kampus dibelahan bumi nusantara. Oleh karena itu dakwah kampus harus mampu menjawab tuntutan zaman yang terus berubah. Perubahan itu mengharuskan dakwah kampus segera berbenah dan bermetamorfosa agar tak tergilas oleh roda zaman itu sendiri.

Dakwah kampus yang sedang mengalami transisi zaman tidak membutuhkan perubahan yang sifatnya parsial, tetapi ia membutuhkan perubahan yang besar dan berkelanjutan disemua sayap da’wahnya. Oleh karena itu, transisi dakwah kampus akan sulit dilewati ketika para pelakunya tidak memiliki akal-akal besar dan paradigma baru dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang ada. Buku ini akan menuntun anda untuk menyelami lebih dalam bangunan dakwah kampus yang merupakan salah satu ruang besar dari bangunan integral pergerakan da’wah yang lebih luas. Buku ini terdiri dari lima ruang yang akan ditelusuri satu persatu dalam stasiun kenangan ini. Lanjut Baca »

 

“Maka, datanglah sesudah mereka pengganti (yang jelak) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui sesesatan. Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh.” (Maryam: 59-60).

Ibnu Abbas berkata, “Makna menyia-yiakan salat salat bukanlah meninggalkannya sama sekali, tetapi mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya.”

Imam para tabi’in, Sa’id bin Musayyib berkata, “Maksudnya adalah orang itu tidak mengerjakan salat duhur sehingga datang waktu asar; tidak mengerjakan asar sehingga datang magrib; tidak salat magrib sampai datang isya; tidak salat isya sampai fajar menjelang; tidak salat subuh sampai matahari terbit. Barang siapa mati dalam keadaan terus-menerus melakukan hal ini dan tidak bertobat, Allah menjanjikan baginya Ghayy, yaitu lembah di neraka Jahanam yang sangat dalam dasarnya lagi sangat tidak enak rasanya.”

“Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lupa akan salatnya.” Al-Maa’uun: 4-5). Orang-orang lupa adalah orang-orang yang lalai dan meremehkan salat.

Sa’ad bin Abi Waqqash berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang orang-orang yang lupa akan salatnya. Beliau menjawab, yaitu mengakhirkan waktunya.”

Mereka disebut orang-orang yang salat. Namun, ketika mereka meremehkan dan mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya, mereka diancam dengan Wail, azab yang berat. Ada juga yang mengatakan bahwa Wail adalah sebuah lembah di neraka Jahanam, jika gunung-gunung yang ada dimasukkan ke sana niscaya akan meleleh semuanya karena sangat panasnya. Itulah tempat bagi orang-orang yang meremehkan salat dan mengakhirkannya dari waktunya. Kecuali, orang-orang yang bertobat kepada Allah Taala dan menyesal atas kelalaiannya.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Al-Munafiqun: 9). Lanjut Baca »

Dalam Alqur’an dinyatakan bahwa orang yang tidak beriman adalah mereka yang tidak mengenali atau tidak menaruh kepedulian akan ayat atau tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah di alam semesta ciptaan-Nya.

Sebaliknya, ciri menonjol pada orang yang beriman adalah kemampuan memahami tanda-tanda dan bukti-bukti kekuasaan sang Pencipta tersebut. Ia mengetahui bahwa semua ini diciptakan tidak dengan sia-sia, dan ia mampu memahami kekuasaan dan kesempurnaan ciptaan Allah di segala penjuru manapun. Pemahaman ini pada akhirnya menghantarkannya pada penyerahan diri, ketundukan dan rasa takut kepada-Nya. Ia adalah termasuk golongan yang berakal, yaitu “…orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Aali ‘Imraan, 3:190-191) Lanjut Baca »

Beberapa waktu yang lalu redaksi mendapat email dari seorang teman dari jakarta yang isinya dibawah ini………….. 

***********  

Dua hari yang lalu seorang teman menawarkan sebuah buku, yang sebelumnya sering tergeletak di sekitarku, dengan sebentuk kalimat yang cukup membuatku penasaran dengan isi buku itu, ”Ga, coba baca buku ini. Aku mau tau komentar kamu, karena beberapa orang yang sudah baca buku ini menjadi ”ilfeel” sama laki-laki”. Hm, semoga aja sebuah bacaan yang ringan, yang tidak membutuhkan lots of energy, karena lebih baik istirahat dari segala macam kepenatan untuk beberapa hari ini.

…kutipan 1…

Saat cinta berpaling

Dan hati menjelma serpihan-serpihan kecil

Saat prahara terjadi

Saat ujian demi ujian-Nya terasa terlalu besar untuk ditanggung sendiri

Kemanakah seorang istri harus mencari kekuatan

Agar hati mampu terus betasbih?

(Asma Nadia) Lanjut Baca »

Penulis: Bayu Gautama
 Sholat dhuha cuma dua rakaat, qiyamullail (tahajjud) juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Sholat lima waktu? Sudahlah jarang di masjid, milih ayatnya yang pendek-pendek saja agar lekas selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah, terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan sholat rawatib sebelum maupun sesudah shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan: “Kalau tidak terlambat” atau “Asal nggak bangun kesiangan”. Dengan sholat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak oleh karena terlalu lama berdiri dalam khusyuknya. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap Allah Yang Maha Mendengar mau mendengarkan keluh mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan, kemudian waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.
Lanjut Baca »
Penulis: Azimah Rahayu

Suatu hari, saya akan menuju suatu tempat. Saya harus memilih kira-kira jalur mana yang akan saya lewati dan alat transportasi apa yang akan saya gunakan. Apakah saya akan naik angkutan umum? Yang lewat tol atau jalur lambat? Atau naik kereta yang cepat namun dapat dipastikan terhimpit? Atau apa?

Dengan menggunakan pengetahuan yang saya miliki tentang kondisi jalanan di Jakarta, saya memilih naik angkutan umum patas AC yang jalurnya lewat tol (supaya tidak terlalu berdesak-desakan dan lebih cepat).

Namun ternyata saya salah. Apa yang saya prediksikan bertolak belakang dari kenyataan. Tol macet total, penumpang penuh dan saya akhirnya harus berdiri dan tiba di tujuan sangat telat. Kesal, sebal, bete dan akhirnya menangis. Padahal saya sudah memilih dengan pemahaman medan terbaik, bukan tanpa pengetahuan. Padahal saya sudah memilih dengan menggunakan parameter-parameter islami. Tapi kok?
Lanjut Baca »